315 Kilometer [end]

Reads
289
Votes
13
Parts
13
Vote
Report
Penulis Andi Yudaprakasa

G. Teguran

-TAKK!!

Bola putih itu meluncur melewati beludru hijau dan menghantam bola hitam dengan angka delapan. Bola hitam itu pun membentur beberapa bola lainnya, membuat bola itu menyebar secara random di atas meja.

"Ahahaha!" Riski tertawa remeh sambil menggosok ujung stik billiar nya dengan pool chalk. Ia bergeser mengitari meja untuk mencari posisi shot. "Gimana sih, meleset terus hari ini? Banyak pikiran, Tra?"

Hampir setiap weekend, Yatra menghabiskan malam bersama rekan- rekan sekantornya. Musik EDM, alkohol, nikotin sudah menjadi rutinitasnya.
Malam ini adalah boy's night out. Yatra bermain billiar bersama Riski dan Bayu sekalian jjuga merayakan keberhasilan closing target bulan ini.

"Tauk lah," Yatra meraih birnya yang tersisa sedikit.

Seorang waitress muda dengan dress hitam pendek mendekati Yatra, menggelendot di bahunya. "Kok udah habis minumnya, Kak? Satu lagi ya?"

"Bentar lagi udahan," Yatra menggeleng, melirik jam tangannya. "Aku bawa motor soalnya."

"Ayolah Kak," rengek waitress itu. "Biar nutup revenue. Satuuu aja. Ya?"

Yatra mendengus, sebab sebenarnya ia sudah agak tipsy. Tapi yah— tak ada salahnya satu lagi sebelum pulang.

Menjelang jam 03.00 pagi, Yatra mengendarai Ninja nya melaju membelah gedung- gedung Surabaya. Jalanan yang lengang membuatnya percaya diri untuk melaju sedikit lebih cepat.
Ia sudah tak sabar ingin segera merebahkan kepala di ranjangnya.

Lalu— seorang bapak- bapak tukang sayur mengendarai motor keluar dari sebuah gang. Lampu motor bapak itu agak remang, sehingga baru terlihat saat jarak Yatra sudah dekat.

Sialan!

-CKIIIIIITTT!!

Suara nyaring karet menggasrak aspal terdengar saat Yatra melakukan hard-brake, membuat roda depan Ninjanya mengunci. Roda belakang yang masih berputar membuat bokong motornya berbelok- belok mencari pelepasan momentum.
Membuatnya kehilangan keseimbangan.

Dan kemudian benturan keras.

Motor Ninja Yatra terjatuh sejauh belasan meter di jalan. Body fairing pecah berkeping. Yatra terlempar ke semak dedaunan taman kecil di median jalan— sangat membantu meredam benturan di tubuhnya.

Dan kemudian sunyi.
Beberapa lama.

Yatra tidak pingsan. Ia hanya berbaring diam menatap lekat langit malam.

"..."

Aneh.

Yatra baru sadar bahwa sudah lama ia tidak melihat bintang- bintang di langit gelap. Sudah lama rasanya ia tidak benar- benar merasakan hawa dingin malam.

Bahwa selama dua tahun ini ia hanya melihat angka, target, resiko.
Kalkulasi.
Sesuatu yang tidak nyata.

Lalu Raka merasakannya, sekujur tubuhnya tak bisa bergerak karena nyeri. Kaki serasa tebakar. Lengan terasa berdenyut. Dada terasa begitu sesak.

"Mas? Mas?" suara parau seorang lelaki memanggilnya

Bapak tukang sayur itu— yang sekilas mengingatkan Yatra kepada bapaknya sendiri.

Yatra masih terdiam.
Untuk pertama kalinya, setelah semuanya.
Yatra merasa bahwa dirinya kecil.

-----

Yatra terbaring diam.
Matanya lekat memperhatikan cairan yang menetes- netes di selang infus.

Dokter bilang Yatra beruntung karena hanya mengalami memar tanpa luka yang berarti. Ia hanya perlu beristirahat beberapa hari sebelum bisa beraktifitas.

Bayu bilang motor Ninjanya masih aman, hanya fairing yang hancur total, dan beberapa part bengkok. Yah, mungkin sekalian saja Yatra akan rombak motornya jadi model naked— scrambler sepertinya opsi terbaik.

Nitya duduk di lantai menggelar tikar di sebelah ranjang Yatra, mengupaskan apel untuknya. Santi juga datang membawa laptop, membawa pekerjaan kantor di bawah pengawasan Yatra.
Bayu dan Riski baru saja pulang menjenguknya, mereka harus kembali ke lapangan.

Lalu, seseorang datang berjalan masuk ke ruang rawat Yatra. Membuat lelaki itu menahan nafas.

"Ibu?" Yatra memaksakan diri beranjak, dengan Nitya membantunya duduk. "Kok bisa ada di sini?"

"Aku yang kasih tahu," jawab Nitya lirih. "Saat denger kamu kecelakaan, aku langsung telepon emergency kontak mu di kantor."

"Duh Le, Masya Allah," ibu bergegas menghampiri Yatra dan memeluknya erat. Ibu menangis sesenggukan, antara kaget dan lega melihat putra semata wayangnya tidak apa- apa. "Kamu bikin ibu kuatir sepanjang jalan."

"Ibu ke sini— sama siapa?"

Dan seseorang lainnya menyusul masuk.
Bapak, berjalan pelan menghampiri ranjang Yatra.

Nitya dan Santi yang cukup sadar dengan keadaan di dalam ruangan, segera keluar membawa barang- barang mereka.

Bapak berdiri di samping ranjang, menatap Yatra tanpa bicara. Dengan ekspresi dingin. Datar.
Ibu masih mendekap Yatra erat.

Yatra duduk di ranjang, balas menatap mata Bapak.
Ia menelan ludah, sedikit tegang.

Apa?
Kalimat apa yang akan keluar dari mulut Bapak?

Raka menahan nafas, bersiap untuk membantah apapun yang akan Bapak katakan.
Yang ternyata, kali ini Yatra tak bisa membantahnya.

Padahal Bapak tidak berkata apa- apa. Ia hanya berdiri diam, menatap Yatra, dengan mata membasah.

Seketika itu Yatra menunduk.
Semua kesombongan, rasa tinggi dan berhasil yang melekat di dada nya selama ini, seketika runtuh.
Sebab hari ini, Yatra hanyalah seorang anak lelaki yang bertemu dengan Bapak.

"Pak," Yatra berujar lirih. "Maafin aku."








Other Stories
Tilawah Hati

Terinspirasi tilawah gurunya, Pak Ridwan, Wina bertekad menjadi guru Agama Islam. Meski be ...

Always In My Mind

Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...

Cinta Bukan Ramalan Bintang

Valen sadar Narian tidak pernah menganggap dirinya lebih selain sahabat, setahun kedekat ...

Menolak Jatuh Cinta

Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Kuraih Mimpiku

Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...

Download Titik & Koma